TUGAS AKHIR MEMBACA KOMPERHENSIF
Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Disusun oleh :
Nama : Anggi Yuliastuti
NIM :
A310120103
Kelas/smster :
2C
PNDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012/2013
Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk
“Lika-liku kehidupan Sang Ronggeng Dukuh Paruk”
Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis :
Ahmad Tohari
Genre
Buku : Fiksi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tempat
terbit : Jakarta
Tebal : 406 Halaman
Tahun Terbit
: 2003
Harga Buku : Rp.-
Ahmad Tohari adalah seorang
sastrawan Indonesia yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada tahun 1982. Lahir di
Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah 13 Juni 1948. Selain menjadi
penulis Ahmad Tohari juga pernah berkecimpung dalam bidang jurnalistik di
beberapa media cetak seperti Harian Merdeka, Majalah Keluarga, dan Majalah
Amanah. Penulis yang berlatar belakang pesantren ini telah melahirkan novel dan
kumpulan cerita pendek. Setelah sukses dengan buku-buku sebelumnya Yaitu
Berkisar Merah, Lintang Kemukus, Dini Hari, Jendela Bianglala.
Novel
Ronggeng Dukuh Paruk ini menceritakan tentang kehidupan atau kisah seorang
perempuan yang menjadi ronggeng (penari) di dusun Dukuh Paruk bernama Srintil.
Dukuh
Paruk adalah nama sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Namun, segenap
masyarakatnya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian
ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya.
Srintil
memiliki seorang sahabat yang bernama Rasus.
Suatu ketuka Srintil menari, ketika itu kakek Srintil melihat tersebut,
sehingga Srintil dinobatkan menjadi ronggeng setelah melalui beberapa ritual.
Untuk menjadi seorang ronggeng sejati Srintil harus melalui ritual bukak klambu
yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapapun lelaki yang mampu memberikan
imbalan yang paling mahal.
Rasus
tidak rela melihat hal itu. Ia tak rela melihat Srintil melepas kesuciannya
begitu saja demi ritual buka klambu untuk menjadi ronggeng yang sesungguhnya.
Akan tetapi, pada akhirnya Srintil memberikan kesuciannya kepada Rasus secara
diam-diam tanpa imbalan apapun. Meskipun, akhirnya sayembara buka klambu itu
dimenangkan oleh lelaki lain juga. Srintil akhirnya menjadi ronggeng yang
terkenal dan kaya. Semua orang memujinya. Tak kuasa melihat Srintil yang telah
menjadi ronggeng, Rasus pun memutuskan untuk pindah dari Dukuh Paruk ke
Dawuhan. Awalnya Rasus bekerja menjadi pesuruh di pasar, tetapi akhirnya ia
bekerja bersama para tentara yang bertugas disana. Rasus pun akhirnya diangkat
menjadi seorang tentara berkat kejujuran dan kegigihannya. Srintil merasa jenuh
menjadi seorang ronggeng. Ia mulai menyadari bahwa ia mencintai Rasus, dan
berniat mengajak Rasus untuk menikah, akan tetapi Rasus menolak, ia lebih
memilih untuk menjadi seorang tentara. Srintil meras sedih, karena sebenarnya
ia ingin memiliki keluarga yang bisa menentramkan jiwanya, yakni memiliki suami
dan anak.
Suatu
ketika muncullah permasalahn yang menerpa Dukuh Paruk. Dukuh Paruk di guncang
oleh panas dan liciknya politik. Dusun trsebt dituduh menjadi anggota partai
komunis setelah terlibat dengan oknum partai tersebut. Dengan segala kebodohan
yang dimiliki masyarakat Dukuh Paruk, Srintil dan beberapa masyarakat lainnya
ditahan. Srntil menjadi salah satu orang yang paling lama ditahan. Setelah, ia
dibebaskan, kehidupannya berubah. Ia mulai tertutup dengan orang lain, karena
pandangan orang lain terhadapnya juga berubah. Hingga suatu hari ia bertemu dengan
seorang lelaki yang bernama Bajus. Semakin hari Srintil semakin dekat dengan
Bajus dan kehidupan Srintil pun mulai membaik. Akan tetapi Srintil tidak
menyadari bahwa Bajus mempunyai rencana jahat terhadapnya. Bajus ingin
menyerahkan Srintil kepada bosnya sebagai hadiah, agar bisnisnya lancar.
Srintil sangat terpukul, ia telah begitu percaya kepada Bajus. Karena itu
Srintil, mengalami gangguan jiwa dan menjadi gila. Melihat kondisi Srintil yang
memprihatinkan Rasus merasa iba. Ia membawa Srintil ke rumah sakit jiwa.
Novel
Ronggeng Dukuh Paruk termasuk novel fiksi. Jika dibandingkan dengan karya-karya
Ahmad Tohari yang lainnya masih sama, yaitu bertemakan masyarakat, lapisan
bawah beserta kompleksitas kehidupan mereka. Karya sastranya kental dengan
budaya jawa, merasa tak ada jarak dengan karakter-karakter dalam beberapa karya
sastranya. Ronggeng Dukuh Paruk memiliki kemiripam dengan novel karya Ahmad
Tohari yang lannya misalnya, Berkisar Merah. Ronggeng Dukuh Paruk memberikan
suasana dan pola pikir layaknya orang desa dengan setting dan alur ceritanya
yang jarang ditemukan pada novel-novel masa kini, kesederhanaan pikiran Srintil
dan kecemburuan Rasus yang begitu kuat membuat cerita dalam buku pertama
trilogi ini penuh dengan emosi. Alur yang digunakan pun merupakan alur campuran,
yang ceritanya terkadang melaju ke masa depan, namun juga terkadang mengulas
masa lalu. Apakah novel ini layak untuk dibaca? Secara keseluruhan, novel ini
sangat layak untuk dibaca oleh kalangan remaja atau dewasa, karena isinya
mengajarkan tentang nilai kehidupan yang penuh lika-liku dan penuh masalah.
Kelebihan
dari novel Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah kisah yang diangkat dalam novel ini
sesuai dengan nilai kemanusiaan dan penghormatan pada perempuan.yang berjuang
untuk keluar dari hitamnya kehidupan, dimana perempuan pada saat itu harus diperbudak
oleh lelaki sebagai hawa nafsu dan selalu dikekang dalam memilih hidupnya
sendiri.
Kekurangan
dari novel ini adalah penceritaan yang bertele-tele dan banyak menggunakan
kata-kata yang sangat seronok (kurang baik) dan kasar.
Kesimpulannya
adalah Srintil merupakan tokoh yang paling menarik dalam novel ini, karena
permainan emosi yang begitu kuat dan sesuai dengan kesedihan yang mampu menarik
pembaca untuk ikut merasakan hal yang sama, ketika membaca kata per kata dalam
novel ini. Penyampaian cerita yang melalui sudut pandang orang ketiga dapat
memperkuat emosi pembaca, ketika membaca novel ini kurang bisa dinikmati karena
alur dan kejadian satu dengan kejadian selanjutnya agak melompat-lompat dan
terlalu cepat. Dari novel ini, nilai moral yang paling terasa nyata adalah agar
setiap orang punya pendirian yang kuat dan mendengarkan isi hatinya, jangan
seperti Srintil yang mau saja dipaksa tetap menjadi ronggeng padahal nalurinya
mengatakan untuk menikah dan memiliki anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar