Rabu, 26 Juni 2013

TUGAS AKHIR MEMBACA KOMPERHENSIF

TUGAS AKHIR MEMBACA KOMPERHENSIF
Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk


  





Disusun oleh :
Nama               : Anggi Yuliastuti
NIM                : A310120103
Kelas/smster    : 2C


PNDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012/2013


Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk
“Lika-liku kehidupan Sang Ronggeng Dukuh Paruk”


Judul               : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis            : Ahmad Tohari
Genre Buku    : Fiksi
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tempat terbit   : Jakarta
Tebal               : 406 Halaman
Tahun Terbit    : 2003
Harga Buku     : Rp.-

Ahmad Tohari adalah seorang sastrawan Indonesia yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada tahun 1982. Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah 13 Juni 1948. Selain menjadi penulis Ahmad Tohari juga pernah berkecimpung dalam bidang jurnalistik di beberapa media cetak seperti Harian Merdeka, Majalah Keluarga, dan Majalah Amanah. Penulis yang berlatar belakang pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Setelah sukses dengan buku-buku sebelumnya Yaitu Berkisar Merah, Lintang Kemukus, Dini Hari, Jendela Bianglala.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menceritakan tentang kehidupan atau kisah seorang perempuan yang menjadi ronggeng (penari) di dusun Dukuh Paruk bernama Srintil.
Dukuh Paruk adalah nama sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Namun, segenap masyarakatnya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya.
Srintil memiliki seorang sahabat yang bernama Rasus.  Suatu ketuka Srintil menari, ketika itu kakek Srintil melihat tersebut, sehingga Srintil dinobatkan menjadi ronggeng setelah melalui beberapa ritual. Untuk menjadi seorang ronggeng sejati Srintil harus melalui ritual bukak klambu yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapapun lelaki yang mampu memberikan imbalan yang paling mahal.
Rasus tidak rela melihat hal itu. Ia tak rela melihat Srintil melepas kesuciannya begitu saja demi ritual buka klambu untuk menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Akan tetapi, pada akhirnya Srintil memberikan kesuciannya kepada Rasus secara diam-diam tanpa imbalan apapun. Meskipun, akhirnya sayembara buka klambu itu dimenangkan oleh lelaki lain juga. Srintil akhirnya menjadi ronggeng yang terkenal dan kaya. Semua orang memujinya. Tak kuasa melihat Srintil yang telah menjadi ronggeng, Rasus pun memutuskan untuk pindah dari Dukuh Paruk ke Dawuhan. Awalnya Rasus bekerja menjadi pesuruh di pasar, tetapi akhirnya ia bekerja bersama para tentara yang bertugas disana. Rasus pun akhirnya diangkat menjadi seorang tentara berkat kejujuran dan kegigihannya. Srintil merasa jenuh menjadi seorang ronggeng. Ia mulai menyadari bahwa ia mencintai Rasus, dan berniat mengajak Rasus untuk menikah, akan tetapi Rasus menolak, ia lebih memilih untuk menjadi seorang tentara. Srintil meras sedih, karena sebenarnya ia ingin memiliki keluarga yang bisa menentramkan jiwanya, yakni memiliki suami dan anak.
Suatu ketika muncullah permasalahn yang menerpa Dukuh Paruk. Dukuh Paruk di guncang oleh panas dan liciknya politik. Dusun trsebt dituduh menjadi anggota partai komunis setelah terlibat dengan oknum partai tersebut. Dengan segala kebodohan yang dimiliki masyarakat Dukuh Paruk, Srintil dan beberapa masyarakat lainnya ditahan. Srntil menjadi salah satu orang yang paling lama ditahan. Setelah, ia dibebaskan, kehidupannya berubah. Ia mulai tertutup dengan orang lain, karena pandangan orang lain terhadapnya juga berubah. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Bajus. Semakin hari Srintil semakin dekat dengan Bajus dan kehidupan Srintil pun mulai membaik. Akan tetapi Srintil tidak menyadari bahwa Bajus mempunyai rencana jahat terhadapnya. Bajus ingin menyerahkan Srintil kepada bosnya sebagai hadiah, agar bisnisnya lancar. Srintil sangat terpukul, ia telah begitu percaya kepada Bajus. Karena itu Srintil, mengalami gangguan jiwa dan menjadi gila. Melihat kondisi Srintil yang memprihatinkan Rasus merasa iba. Ia membawa Srintil ke rumah sakit jiwa.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk termasuk novel fiksi. Jika dibandingkan dengan karya-karya Ahmad Tohari yang lainnya masih sama, yaitu bertemakan masyarakat, lapisan bawah beserta kompleksitas kehidupan mereka. Karya sastranya kental dengan budaya jawa, merasa tak ada jarak dengan karakter-karakter dalam beberapa karya sastranya. Ronggeng Dukuh Paruk memiliki kemiripam dengan novel karya Ahmad Tohari yang lannya misalnya, Berkisar Merah. Ronggeng Dukuh Paruk memberikan suasana dan pola pikir layaknya orang desa dengan setting dan alur ceritanya yang jarang ditemukan pada novel-novel masa kini, kesederhanaan pikiran Srintil dan kecemburuan Rasus yang begitu kuat membuat cerita dalam buku pertama trilogi ini penuh dengan emosi. Alur yang digunakan pun merupakan alur campuran, yang ceritanya terkadang melaju ke masa depan, namun juga terkadang mengulas masa lalu. Apakah novel ini layak untuk dibaca? Secara keseluruhan, novel ini sangat layak untuk dibaca oleh kalangan remaja atau dewasa, karena isinya mengajarkan tentang nilai kehidupan yang penuh lika-liku dan penuh masalah.
Kelebihan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah kisah yang diangkat dalam novel ini sesuai dengan nilai kemanusiaan dan penghormatan pada perempuan.yang berjuang untuk keluar dari hitamnya kehidupan, dimana perempuan pada saat itu harus diperbudak oleh lelaki sebagai hawa nafsu dan selalu dikekang dalam memilih hidupnya sendiri.
Kekurangan dari novel ini adalah penceritaan yang bertele-tele dan banyak menggunakan kata-kata yang sangat seronok (kurang baik) dan kasar.
Kesimpulannya adalah Srintil merupakan tokoh yang paling menarik dalam novel ini, karena permainan emosi yang begitu kuat dan sesuai dengan kesedihan yang mampu menarik pembaca untuk ikut merasakan hal yang sama, ketika membaca kata per kata dalam novel ini. Penyampaian cerita yang melalui sudut pandang orang ketiga dapat memperkuat emosi pembaca, ketika membaca novel ini kurang bisa dinikmati karena alur dan kejadian satu dengan kejadian selanjutnya agak melompat-lompat dan terlalu cepat. Dari novel ini, nilai moral yang paling terasa nyata adalah agar setiap orang punya pendirian yang kuat dan mendengarkan isi hatinya, jangan seperti Srintil yang mau saja dipaksa tetap menjadi ronggeng padahal nalurinya mengatakan untuk menikah dan memiliki anak.